Terapkan Cara Mengatasi Trypophobia Ini Sebelum Semakin Parah

Apakah Anda mempunyai suatu fobia? Sadari dan kenalilah diri sendiri untuk mengetahui apakah mempunyai fobia. Rasa takut, geli, atau cemas berlebihan terhadap visualisasi ataupun kondisi nyata dari kumpulan lubang kecil atau berongga juga bisa termasuk fobia. Trypophobia adalah sebutannya. Jika mengalaminya, diperlukan upaya untuk segera mengatasinya agar tak semakin parah.

  1. Melakukan Identifikasi Ciri-Ciri

Cara mengatasi trypophobia sebenarnya dimulai dari pengenalan ciri-ciri yang ditimbulkan dan juga mengenali asal muasal mengapa bisa muncul gejala atau ciri-ciri tersebut. Dalam hal ini, pengidap yang sudah merasakan adanya fobia dalam dirinya, perlu langsung memeriksakan dirinya ke dokter yang nantinya akan ditangani oleh terapis khusus.

Peran terapis ini sangat penting untuk mengetahui penyebab timbulnya ciri-ciri fobia pada kumpulan lubang kecil atau berongga. Memang, penyebab trypophobia itu ada beragam. Untuk mengetahui penyebab pastinya, terapis perlu mengidentifikasi penyebabnya dengan melihat langsung interaksi pengidap fobia dengan kumpulan lubang kecil atau berongga tersebut.

Setelah dihadapkan langsung pada media visual berupa kumpulan lubang kecil atau gambar yang berongga, terapis akan mengetahui reaksi pengidap sejauh mana. Setelah itu, terapis akan menganalisis diperkuat dengan penjelasan dari pengidap. Melalui proses ini, diketahui penyebab fobia dan bisa menjadi dasar cara mengatasi trypophobia yang dialami.

  1. Melakukan Terapi

Setelah mengetahui penyebab mengapa merasa takut, jijik, cemas, atau merinding jika melihat kumpulan lubang kecil dan berongga, terapis akan memberikan penanganan lanjutan untuk mengatasi ketakutan atau kecemasan tersebut. Setelah sebelumnya dilakukan terapi pemaparan untuk menggali penyebab fobia seperti yang dijelaskan sebelumnya, terapis akan melakukan terapi untuk menghilangkan fobia secara perlahan.

Cara mengatasi trypophobia ini adalah dengan menghadapkan pengidap dengan visual atau ilustrasi yang makin lama bisa menjadi nyata, seiring dengan peningkatan kesembuhan pengidap. Untuk itu, diharapkan pengidap fobia bisa bersikap komunikatif dan kooperatif setiap kali melakukan terapi.

Adapula terapi melakukan teknik relaksasi untuk penderita agar tidak merasa stres atau tertekan setelah disuruh untuk melawan ketakutan. Kegiatan relaksasi yang bisa dilakukan adalah pijat, melakukan yoga, zumba, olahraga lari, dan berbagai tindakan yang menyenangkan, seperti melakukan hobi. Beragam tindakan ini mampu merelaksasi tubuh.

  1. Menghilangkan Kecemasan dengan Melakukan Hobi

Sama seperti hal di atas, penjelasan mengenai cara mengatasi trypophobia harus segera dilakukan dengan melaksanakan terapi relaksasi. Tujuannya agar kecemasannya hilang setelah melawan ketakutan atau kecemasan ketika berinteraksi dengan penyebab fobianya. Terapi menghilangkan kecemasan yang bisa berlangsung dalam jangka panjang dan menyenangkan adalah melakukan hobi.

Setiap orang pasti mempunyai hobi yang menyenangkan dan mampu menghilangkan kecemasan atau ketakutan atas suatu hal. Sifat hobi yang terkait dengan dunia seni juga menjadi suatu bentuk terapi yang sangat disarankan untuk melepas kecemasan dan penumpukan emosi akibat mengalami fobia. Beberapa contoh kegiatannya adalah melukis, menyanyi, merajut, dan menulis.

  1. Menerapkan Pola Hidup Sehat

Penerapan pola hidup sehat sangat dibutuhkan untuk merelaksasi tubuh agar tidak stres. Hal ini mampu membantu pelaksanaan terapi menghilangkan fobia. Caranya dimulai dengan mencukupi kebutuhan tidur, menerapkan pola makan sehat serta diet seimbang. Berolahraga secara teratur juga penting untuk menyehatkan tubuh, pikiran, dan juga mental. Selalu berpikir positif untuk menyingkirkan kecemasan serta menguatkan pikiran bawah sadar untuk melawan rasa takut juga sangat dibutuhkan.

Dikutip dari halodoc.com, selain melakukan terapi dengan terapis dan melakukan teknik relaksasi, cara mengatasi trypophobia juga dapat dilakukan di rumah dengan cara membiasakan diri melihat gambar-gambar klaster berlubang atau berongga. Semakin sering melihatnya, maka bisa semakin terbiasa pula dalam menghadapinya.